Ini cara saya, mengatakan yang tidak bisa di katakan

Thursday, April 11, 2019


~Hi!

Saya gak inget kapan tepat nya, lebih suka memendam perasaan saya sendiri, dibandingkan harus dibagi dengan orang lain, yang menurut saya belum tentu satu pandangan. Tapi saya ingat, dulu saya suka sekali menulis di buku diary. Semua kejadian hari itu saya tulis, kenapa saya senang, kenapa saya sedih. Kejadian yang gak bisa dilupakan, kejadian yang harus saya ingat, semua saya tulis. Kemudian menjadi insecure karena,  ternyata buku diary saya dibaca ibu saya. Dan dia balas semua tulisan yang ada disana. Kenapa begini, kenapa begitu. Lalu saya fikir, sepertinya saya tidak bisa berpendapat sekalipun didalam hati, karena itu salah.



Dari situ, kegiatan saya menulis diary semakin berkurang. Tidak lagi jadi kegiatan wajib saya setiap malam. Semua yang bikin senang, semua yang bikin sedih. Cukup saya simpan dalam hati. Kalaupun saya menulis, saya akan betul betul pilih, kisah mana yang aman di ceritakan. Karena saya gak mau lagi, dimarahi ibu saya, lewat tulisan. 

Sampai pada akhirnya saya kenal Cerita Pendek. Terimakasih Pipiet Senja, yang mengenalkan saya dengan cerita cerita indah. Dari situ, saya mulai menulis cerita pendek. Semua yang terjadi hari itu, bagaimana perasaan saya semua tersamar di dalam cerita. Aman, tak ada yang tau. 

Tapi, lagi-lagi orang tua saya perhatian sekali. Jujur, saya orang yang saat mengerjakan sesuatu tidak suka diliatin, dimandori. Bukan sedang mengerjakan ulangan, untuk apa diawasi. Tapi seperti yang saya bilang, orang tua saya perhatian sekali. Setiap saya menulis, duduk didepan komputer, dia akan bertanya "tulis tentang apa?" setelah dia baca ceritanya "ini maksudnya apa kamu tulis begini?" lalu mulai curiga "apa ini yang kamu alami, kamu ngerasain begini juga? kamu kesel sama mamah?" bukan, enggak kok. Walaupun mungkin iya, tapi cerita pendek itu fiksi, yang terjadi lalu di tambah bumbu penyedap tambahan ya tidak 100% real jadinya. Lagi lagi saya berfikir, tidak bisa menumpahkan perasaanmu disana, tidak baik. 

Tapi tau kan rasanya, memendam apa yang harus nya dikeluarkan terlalu lama. Lelah dan sedih. Jauh di lubuk hati paling dalam, kita juga ingin didengar. Perasaan ini ingin di anggap. Akhirnya satu persatu cerita yang saya buat, saya print dan saya jadikan satu buku. Di buat di tukang foto copy, saya izinkan teman teman saya membaca. Menyenangkan, walaupun mereka gak sadar kalau yang ada di cerita itu 20% nya mungkin terinspirasi dari apa yang terjadi pada saya sendiri. 

Menulis masih menjadi hal yang saya sukai, tapi saya bingung media apa yang bisa saya gunakan, sampai pada satu pertemuan Dosen saya mengenalkan pada blog. Disana saya memulai semua tulisan saya. seperti punya diary online. Semua cerita pendek, puisi dan kisah saya ada disana. tak ada batasan tak ada larangan. Semua tergantung pada saya, sejauh mana mau jadi terbuka. 

Saya adalah extrovert di dalam tulisan saya. Dan ini membantu sekali, ketika saya ingin perasaan saya di dengar, tapi tak bisa di suarakan. Saya akan menulis disana, ketika banyak sekali pertanyaan, tapi saya ragu untuk tanyakan. Saya akan tulis disana. 

Lalu apa yang saya dapat, Kelegaan hati. Hati yang lega dan kembali lapang setelah semua beban di tumpahkan lewat tulisan. Hati yang kembali ikhlas dan putih setelah semua yang kotor di tumpahkan disana. Fikiran yang kembali jernih karena saat menulis kita berinstropeksi. Apakah benar, apakah iya? 

Saya rasa ini alsana besar kenapa saya harus banget ngeBlog. Demi kewarasan dan perdamaian hati saya. Mungkin kamu bisa mulai, dan mencoba. 


You Might Also Like

0 Comment